728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 20 Januari 2017

    Cuitan SBY di Twitter: ‘Prihatin’ dan ‘Pasrah’

    Jakarta, Warta.co - Sore ini, akun resmi Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono, @SBYudhoyono, mengunggah tweet curhat kepada Tuhan. Curhat itu terkait keprihatinannya terhadap penyebaran fitnah dan berita hoax yang dianggapnya merajalela belakangan ini.

    Sebetulnya, ketika saya membaca cuitan Pak SBY itu, jujur saya juga prihatin terhadap beliau. Bayangkan, gara-gara ulah orang yang disebutnya ‘juru fitnah dan penyebar hoax’, membuatnya baper.

    Saking baper-nya ia tiba-tiba prihatin sekali terhadap keadaan negara ini. Seolah-olah di matanya negara ini sudah berada pada titik amburadul, tidak terurus lagi. Apa mungkin dengan curhatan itu ia mau katakan bahwa kondisi sekarang lebih buruk dibandingkan dengan keadaan ketika ia masih menjabat sebagai kepala negara? Entahlah. Hanya dia yang bisa menjawab pertanyaan itu.

    Satu hal yang pasti bahwa cuitan Pak SBY itu menyisakan banyak pertanyaan. Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Pak SBY ketika menulis cuitan itu di twitter? Orang jadi penasaran terhadap keprihatinan Pak SBY. Apakah ia benar-benar prihatin terhadap keadaan negara ini ataukah dia sebenarnya sedang memikirkan nasib anak sulungnya yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai gubernur DKI? Siapa yang dimaksudkan oleh Pak SBY dengan julukan ‘juru fitnah dan penyebar hoax itu’?

    Saya menduga, ada satu hal yang lebih khusus yang mau disampaikan oleh Pak SBY daripada sekedar prihatin terhadap keadaan negara. Pak SBY tahu bahwa negara ini sedang dalam keadaan baik-baik saja, tetapi dia prihatin terhadap pencalonan anaknya menuju kursi DKI 1.

    Mungkin saja ia mencium adanya orang-orang yang ‘dianggapnya’ sebagai ‘juru fitnah dan penyebar hoax’ yang menghalangi perjalanan karier politik anaknya itu. Saya jadi berpikir, “Apa mungkin cuitan Pak SBY ini ada kaitannya dengan kasus yang menjerat cawagub dari No. 1, Sylviana Murni, yang notabene adalah pasangan dari anak sulungnya?

    Memang, baru-baru ini Sylvi memperoleh surat panggilan dari  Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) Bareskrim Polri. Penyidik memanggil Sylvi untuk diperiksa terkait kasus dugaan dana bansos Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2014 dan 2015. Itu bukan kasus pertama yang dituduhkan kepada Sylvi. Dia juga tersandung dugaan korupsi dana pembangunan masjid.

    Apa itu yang menjadi sasaran cuitan Pak SBY? Jika memang itu tujuannya, maka wajarlah jika Pak SBY pasrah kepada Tuhan. Bagaimana tidak, jika Sylvi ternyata terbukti korupsi, maka kelarlah juga cita-cita anak sulungnya untuk menjadi gubernur DKI sebab rakyat pasti tidak memilih pasangan Agus-Sylvi.

    Dalam cuitannya, Pak SBY sedikit bingung. “Negara kok jadi begini?” Mungkin apa yang terjadi sekarang tidak sesuai dengan dugaannya. Perkiraannya meleset. Dia mungkin mengira bahwa perjalanan anaknya menuju DKI 1 akan berjalan mulus tanpa cacat cela. Eh, ternyata di luar dugaan. Cawagubnya tersandung masalah. Apa daya sang mantan tidak mempunyai kuasa lagi untuk menolong sehingga dia hanya bisa pasrah kepada Tuhan.

        Tapi, jujur, saya juga bingung mengapa Pak SBY begitu yakin bahwa ada juru fitnah dan penyebar hoax merajalela di negara ini. Siapa saja mereka itu? Siapa pula korbannya?

    Saya dukung Pak SBY, jika penyebar fitnah dan berita hoax itu benar-benar ada, mereka memang keterlaluan. Tetapi, saya justru tidak setuju juga jika Pak SBY menempatkan diri sebagai bagian dari rakyat kecil dan yang lemah. Atau apa mungkin yang dimaksudkan oleh Pak SBY dalam kalimat itu adalah bahwa Agus merupakan representasi dari golongan rakyat kecil dan yang lemah yang dianggapnya hilang harapan untuk menang karena ulah juru fitnah dan penyebar hoax?

    Ah, memang keterlaluan juru fitnah itu. Tapi tidak apa-apalah, Pak. Kami ada bersama Bapak. Bersama kita bisa, Pak. Kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan YME. Biarlah Tuhan sendiri yang akan menyelesaikan semuanya. Tuhan yang akan menentukan apakah anak Bapak benar-benar difitnah atau memang begitu adanya. Kami cuma bisa bilang supaya lain kali Bapak tidak perlu baper lagi. Bapak perlu banyak waktu untuk menghibur diri dengan bermain musik dan piknik supaya masa tua makin bahagia. Biarkan kami yang muda-muda ini yang akan menghadapi masalah-masalah yang muncul di masyarakat. Tapi terima kasih lho Pak sudah mau curhat di twitter sehingga kami jadi tahu keprihatinan Bapak. Tuhan YME pasti mendengarkan curhat Bapak.

    Oleh :  Jufri Kano Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Cuitan SBY di Twitter: ‘Prihatin’ dan ‘Pasrah’ Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top