728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 29 Januari 2017

    Antasari Azhar The Messenger : Gue Bongkar atau Menyerah !!


    Kita tahu saat ini, perang dingin antara Jokowi dan SBY bukan lagi isapan jempol. Meski tidak ada deklarasi saling bermusuhan, namun publik sangat merasakan aroma dua grand master politik nasional ini sedang bertarung pake ilmu tenaga dalam tingkat tinggi.

    Debat kedua Pilkada DKI kemarin malam di Bidakara Hotel benar benar berlangsung seru, menegangkan dan lucu. Debat ini tidak saja membuat mata seluruh rakyat Indonesia tertuju kepada pasangan calon, tapi kehadiran mantan Ketua KPK Antasari Azhar menyedot perhatian semua hadirin, wartawan dan pemirsa telivisi.

    Untuk apa Antasari Azhar hadir di Bidakara sebagai tamu VIP ? Apakah kehadirannya sebagai utusan Jokowi karena sehari sebelumnya Antasari telah bertemu empat mata dengan Presiden Jokowi?
    Saat Antasari memasuki Bidara Room tempat debat berlangsung, semua mata langsung tertuju kepadanya. Saya kebetulan sedang melakukan siaran langsung via FB. Melihat sosok Antasari, kamera handphone langsung saya arahkan ke wajahnya.

    Dari pintu masuk hingga tempat duduk kursi VIP, saya dan rekan rekan media terus mengejar Antasari. Saat Antasari Azhar berjalan dan menyalami beberapa tamu VIP, terdengar sorakan keras dari pendukung kotak kotak “Bongkarrr!!! Bongkarrr!!! Bongkarrr !!!! Bongkarrr !!!!.

    Ada puluhan kali teriakan BONGKAR terdengar sangat keras di Bidara Room itu. Teriakan ini tentu untuk memberi semangat agar Antasari tidak takut membongkar misteri keterlibatan petinggi negeri yang diduga telah menjebloskannya ke penjara.

    Kasus Antasari Azhar kembali diangkat media. Ramai orang menduga Antasari tidak bersalah dan bukan pembunuh Dirut RNI Nasrudin Zulkarnaen. Bahkan adik kandung korban Andi Syamsudin Iskandar  membela Antasari. Itu hanya rekayasa sesat yang sarat aroma konspirasi tingkat tinggi elit kekuasaan. Antasari dikriminalisasi agar tidak menjadi ancaman, begitu selentingan kabar menyeruak.

    Saat saya tanyakan mendukung siapa, Antasari dengan datar menjawab mendukung Pak Jokowi. “Saya kemari mendukung Pak Jokowi”, jawabnya tenang sambil berbisik dengan Theo L Sambuaga yang duduk di sebelahnya.

    Tidak banyak informasi yang bisa dikorek darinya. Ia hanya mengatupkan bibirnya dengan gerakan jari telunjuk menutup bibir saat didesak apa isi pembicaraannya dengan Presiden Jokowi.

    Jika kedatangan Antasari Azhar adalah untuk mendukung Jokowi, tentu kehadirannya bukan waktu dan tempat yang tepat. Di sana bukan acara debat pilpres. Malam itu adalah debat kandidat gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Jadi rasanya musykil kalau Antasari tidak tahu malam itu adalah debat gubernur bukan debat capres.

    Tapi tunggu dulu. Bukankah sehari sebelumnya Antasari bertemu empat mata dengan Jokowi? Pesan apa yang diterima Antasari dari pertemuannya dengan Jokowi? Apakah Antasari diutus Jokowi sebagai the messenger? Pembawa pesan? Sang Utusan?

    Keduanya memang tidak berhadapan langsung, namun para pendekar jagoannya terlihat kasat mata sedang saling menyerang dan menangkis serangan.

    Aksi 411 dengan tegas disebut Jokowi sebagai aksi yang ditunggangi aktor politik. Aksi 212 sebagai lanjutan aksi 411 digunakan sebagai alat untuk makar. Alat untuk mengkudeta Presiden Jokowi. 11 orang aktivis dicokok polisi, subuh menjelang aksi 212 berlangsung.

    Cuitan nelangsa SBY beberapa hari lalu menjadi ekspresi kondisi sempoyongan sang grand master yang mulai tampak kedodoran pertahanannya. Para pendekar yang November lalu meninju langit seperti Rizieq Shihab malah sekarang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

    Rizieq sedang kena kunci dengan tuduhan pidana seperti penista Pancasila, penistaan agama Kristen, hate speech logo palu arit di uang kertas baru. Teranyar dugaan penyerobotan lahan negara di Bogor.

    Sebelumnya 11 pendekar aliran makar seperti Ratna Sarumpaet, Kivlan Zein, Syarwan Hamid, Rachmawati, Ahmad Dhani dll bahkan sudah kena cokok sebelum syahwat mengkudeta Presiden Jokowi terlaksana.

    Ketum MUI Maruf Amin yang biasanya galak menyerang pemerintah kini tampak lebih lunak. Maruf Amin akhirnya sadar dengan blunder kekeliruannya. Beberapa fatwa cenderung bikin nilai kebangsaan Indonesia semakin tercabik cabik. Ini  menjadi blunder.

    Sementara itu Mpok Sylvi sedang dirundung sial. Polisi mendapat laporan warga tentang dugaan korupsi hibah bansos Pramuka dan dugaan korupsi pembangunan mesjid saat Mpok Sylvi menjabat Ketua Kwarda Pramuka dan Walikota Jakpus.

    Polisi sedang menyelidiki keterlibatan Mpok Sylvi atas dua kasus ini. Ini sangat mengganggu konsentrasi AHY dan pendukungnya. AHY bahkan sempat sewot dengan langkah polisi yang memproses hukum laporan pengaduan masyarakat ini. AHY menyebut pemeriksaan polisi kental bernuansa politis.

    Padahal AHY begitu getol mendesak polisi memproses hukum Ahok atas dugaan penistaan agama meski tuduhannya sangat lemah. AHY standar ganda. Tidak fair.

    Akibat serangan balik yang memborbardir pertahanan SBY, SBY dengan terpaksa kirim cuitan konyol dengan melempar tudingan penguasa menjadi juru hoax. Kata SBY
    “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa & merajalela. 

    Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*,”

    Perang kedua grand master Jokowi dan SBY kini memasuki babak sudden death. Babak hidup atau mati. 

    Tak ada lagi istilah gencatan senjata. Menyerah atau mati. Antasari Azhar adalah utusan Pendekar Tendangan Tanpa Bayangan itu. Sang Pendekar Jokowi.

    Sebelumnya Antasari sudah wanti wanti SBY. “Saya justru minta bantu SBY. Kalau beliau ingin cuit-cuitan, bantu ungkap kasus saya. SBY bongkar kasus saya. Siapa pelaku sesungguhnya,” kata Antasari usai menghadiri HUT ke-70 Megawati Soekarnoputri di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin, 23 Januari 2017.

    Dalam cerita perang, sering kita mendengar panglima perang atau kepala negara mengirim utusannya ke negara musuh sebelum diluluh lantakkan. Utusan itu dikirim untuk menyampaikan pesan panglima perang atau kepala negaranya. Biasanya pesannya berisi meminta negara itu agar bersedia tunduk kepada pimpinan kepala negara si utusan. Jika menolak, akan ditaklukkan.

    Malam itu, bertempat di Bidakara Hotel, tempat berlangsungnya perebutan kekuasaan gubernur Jakarta, Antasari Azhar hadir sebagai pendukung Jokowi atau utusan khusus Jokowi. Memang Antasari tidak bertemu dengan SBY di sana. Tapi setidaknya anaknya SBY AHY, istrinya Bu Ani, menantu dan para punggawa SBY tahu ada Antasari Azhar sedang selfi dengan Ahok.

    Pesan perang psikologi sedang dimainkan Jokowi dengan mengirim sang utusan di medan pertempuran 

    Bidara Room. Pesannya jelas sekali seperti teriakan yang menggema kencang di dalam ruang itu. 

    BONGKARRR !!! BONGKARRR !! BONGKARR!!!

    Pesan The Messenger itu adalah “Elu menyerah jangan macam macam lagi atau gue bongkar, biar rame sekalian”.
    Jika sudah begini, akankah babak sudden death memakan korban lagi? Siapakah korban selanjutnya? 

    Apakah Pangeran Cikeas yang namanya santer disebut sebut Nazarudin, Anas Urbaningrum dan Alm. Soetan Bhatugana ?

    Duhhh…ngeri banget sih tendangan tanpa bayangan Pak De…

    Salam
    Penulis : Birgaldo Sinaga  Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Antasari Azhar The Messenger : Gue Bongkar atau Menyerah !! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top