728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 25 Januari 2017

    (Analisa Filosofis Sederhana) Ahok Murka Disebut Asroi “Kafir” di Sidang Ke-7


    Jakarta, Warta.co - Murka Ahok terpantik dengan pernyataan dari saksi pelapor, Asroi. Dalam kesaksiannya, PNS Kementerian Agama itu diminta hakim untuk menjelaskan tentang kandungan surat Almaidah ayat 51 tersebut.

    “Saya tidak bisa menafsirkan, tapi sepengetahuan kami tidak boleh memilih pemimpin kafir,” kata Asroi dalam sidang di Gedung Kementan, Jakarta.

    “Saya tegaskan, saudara mengerti kitab suci, baik. Di situ ditegaskan Isa ada di Alquran. Saya percaya Yesus Tuhan dan (saya) bukan kafir. Saya keberatan Anda sebut saya kafir,” kata Ahok di auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa 24 Januari 2017.

    “Saya bertuhan dan saya percaya Yesus Tuhan. Dan adalah hak saya di negara Pancasila dan sebagai WNI di negara Pancasila saya berhak menjadi apa pun di negeri ini,” tegas pria bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama ini.

    Atas pernyataan itu, hakim kemudian kembali menggali definisi kafir tersebut. Asroi pun menegaskan, bahwa semua orang di luar Muslim dan tidak bersyahadat, masuk dalam sebutan itu.

    “Kalau yang mengucapkan (dua kalimat Syahadat) tidak kafir, berarti dia Muslim,” jelas Asroi.

    Tulisan ini akan menggunakan LOGIKA, bukan IMAN suatu agama apapun. Maka dijudul saya tulis dengan jelas ANALISA FILOSOFIS, yang memberi makna bahwa uraian apapun di sini akan saya jabarkan hanya dengan nalar dan logika. Kita belum tentu satu agama, namun sejauh kita sesama manusia, minimal kita membawa logika yang sama, yakni logika sebagai manusia.


    I. PENGANTAR SEBELUM MEMBACA LEBIH LANJUT

    Mengapa saya tidak menggunakan penjelasan dengan dasar iman? Tidak akan nyambung karena iman kita berbeda-beda. Penjelasan dengan dasar iman (atau teologis) hanya bisa dilakukan di antara dua orang atau lebih yang memiliki dasar iman yang sama.

    Supaya mudah membedakan antara penjelasan dengan dasar iman (teologis) dan dasar logika (filosofis), saya akan mempermudah dengan memberikan contoh kasus : “Budi mencuri mangga”

    Mengingatkan dengan dasar teologis (dasar keimanan). 

    Bambang teman Budi, satu agama, dia melarang dengan mengatakan, “Budi, jangan mencuri mangga karena melanggar ayat sekian. Itu dosa.” Budi akan nyambung karena satu agama, tahu kitab sucinya, dan hidup dengan tradisi agama yang sama.

    Mengingatkan dengan dasar filosofis (ilmu logika)

    Bambang teman Budi, beda agama, dia melarang dengan mengatakan, “Budi, jangan mencuri mangga karena kasian kan pemiliknya sudah menanam susah-susah. Mungkin itu nanti mau dijual untuk kehidupan keluarganya.” Budi beda agama, tapi tetap nyambung, karena Budi manusia, sama seperti Bambang. Sesama manusia memiliki logika pengetahuan yang kurang lebih sama tentang ‘kasian’, ‘sudah menanam susah-susah’, dan ‘dijual untuk kehidupan keluarga’.
    Penjelasan di atas yang super singkat, semoga membantu ya. Silahkan stop di sini bila Anda merasa sulit ‘hanya’ menggunakan logika dalam membaca artikel ini. Keterbukaan berpikir sangat dibutuhkan untuk kejernihan informasi di sini.

    Supaya teman-teman dapat membaca sambil mengalir tanpa mengernyitkan dahi, semua kosa-kata yang berbau filsafat sudah saya coba terjemahkan ke bahasa sehari-hari.

    II. MEMAHAMI CARA BERPIKIR ASROI DAN AHOK

    II.1. Asroi dan Definisi Kafir

    Asroi beragama Muslim, Ahok beragama Kristen Protestan. Di dalam Muslim, saya sangat sadar ada berbagai definisi tentang apa itu kafir, salah satunya seperti yang dipercaya Asroi, yakni bahwa kafir berarti siapapun di luar pemeluk agama Islam. Soal ini masih ada perdebatan antar kaum intelektual Muslim, namun saya tidak akan tulis sekarang. Kita fokus pada pemahaman agama Islam dan kafir menurut Asroi saja. “Kalau yang mengucapkan (dua kalimat Syahadat) tidak kafir, berarti dia Muslim,” jelas Asroi di persidangan kemarin.

    Definisi yang digunakan Asroi di atas itu bersifat keimanan. Mudahnya begini, Asroi mengimani itu, lalu dengan dasar iman miliknya tersebut, ia menjadikannya acuan untuk menilai Ahok yang berbeda dasar iman. Saya tidak mengatakan apa yang diimani Asroi salah. Tidak ada yang bisa mengatakan iman seseorang salah, sejauh tidak mengganggu eksistensi manusia yang lain. Manusia bebas, namun kebebasan manusia dibatasi oleh kebebasan manusia yang lainnya.

    Kekeliruan Asroi adalah menggunakan definisi teologis agamanya untuk mendefinisikan keimanan Ahok yang berbeda agama. Maksudnya bagaimana? Standar Asroi tidak bisa dijadikan standarisasi menilai Ahok atau siapapun yang hidup dengan standar nilai keagamaan yang berbeda. Standar itu, bila urusan iman, biasanya diurus masing-masing di dalam hatinya. Ketika itu digunakan untuk mengukur manusia yang lain, hampir pasti akan terjadi perselisihan.

    Jadi Ahok benar? Tidak juga. Supaya imbang saya juga akan membahas tentang Ahok. Saya akan berusaha netral dan hanya berpatokan pada logika universal manusia saja.

    II.2. Ahok dan Definisi Kafir

    Kekeliruan Ahok bukan marah. Marah itu tindakan spontan defensif siapapun yang dicap oleh orang lain, dalam hal apapun tidak harus soal agama, bila hal itu mengena identitas terdalam orang tersebut. Ahok atau siapapun yang mengalami seperti dia akan marah dan itu wajar, karena dengan mengatakan kafir ke orang yang dalam hidupnya begitu mengimani agamanya dan mengenal Tuhan, akan menusuk identitas terdalam orang itu.

    Contoh di luar urusan agama supaya mudah: Si A orang Jawa pernah lama tinggal di Eropa. Si A paling tidak suka dibilang ‘inlander’, karena walaupun artinya ‘pribumi Indonesia’ tapi selalu dipakai untuk mencela. 

    Ketika ada yang mengatakan demikian, otomatis spontan defensif, baik dengan marah atau diam lama. Itu mengena sekali identitas terdalam si A yang bangga sebagai seorang Jawa dan seorang Indonesia.

    Jadi apa kekeliruan Ahok? Kekeliruan Ahok ada pada pengandaian bahwa Asroi menggunakan definisi kafir yang sama dengan Ahok. Arti kafir menurut Ahok apa, berbeda dengan Asroi apa, tapi dikira Ahok sama, begitu gampangnya.

    Ahok memahami kafir secara Filosofis yang tentu walaupun pada umumnya pemahaman ini telah disetujui kebanyakan orang karena itu yang paling rasional dalam hidup bersama sebagai manusia, tetap ada juga yang diam-diam di hatinya kurang sepakat. Itu tidak masalah selama di hati saja, tidak mengganggu eksistensi hak hidup manusia yang lain. Ini juga tidak kita bahas sekarang.

    Secara filosofis, pada umumnya kafir dimaknai sebagai mereka yang ‘tidak mengenal Tuhan (Atheist) dan/atau berperilaku tidak manusiawi (seperti orang bar-bar, rusuh, suka membunuh, menyakiti sesama, dan sebagainya). Ada satu jenis lagi, sebagai tambahan info saja, Agnosis, percaya Tuhan tapi tidak percaya institusi agama apapun. Kata kuncinya di sini adalah “mereka yang tidak berlaku manusiawi pada manusia yang lain.”

    III. TITIK UTAMA PERSELISIHAN

    Asroi tidak salah karena itulah definisi kafir menurut iman yang dipercayanya. Ahok juga tidak salah mendefinisikan kafir dengan memilih menggunakan logika manusianya, bukan iman. Namun ketika Asroi menggunakan definisi-nya untuk memberi cap pada Ahok, di situ letak kesulitannya. Sebenarnya membuat cap pada orang lain, apapun cara dan jenis capnya, tidak pernah menjadi mudah. Kebetulan dalam kasus ini, berkaitan dengan dasar keagamaan.

    Tahukah Anda bahwa Ahok bisa mengatakan Asroi kafir juga bila dia menjawab dengan standar agamanya (Kristen), bukan definisi logika?

    Begini penjelasan saya kalau Anda mau tahu. Penganut agama Kristiani, apapun denominasinya (Protestan, Katolik, Anglikan, Ortodoks, dan sebagainya) pasti sudah sangat sering mendengar tentang kata-kata “di luar Yesus tidak ada keselamatan” dan “anak domba yang hilang”.

    Kalau memakai standar Kristen, Ahok bisa mengatakan Asroi sebagai “orang yang tidak akan selamat” atau “domba yang hilang” sebagai pengganti kata kafir. Tapi mengapa tidak dilakukan Ahok? Karena Ahok tahu persis akan muncul perbedaan pemahaman yang berlanjut pada perselisihan bila memberi cap orang lain yang berbeda agama dengan standar Kristen-nya.


    Intermezzo saja. Selama saya hidup saya banyak temukan Katolik dan Protestan yang fanatik juga. Tidak semua Kristen memiliki pemikiran semanusiawi Ahok. Mereka juga kadang meng-kafirkan non-Kristen dengan kosa kata yang menyedihkan saya. Saya sampai tidak bisa tulis di sini apa kata-katanya.

    Nah, titik perselisihan sudah jelas sepertinya di sini. Asroi menggunakan standar dia untuk mendefinisikan identitas seorang Ahok yang berbeda standar keimanan dengan Asroi. Saya menulis ‘titik perselisihan’ agar pembaca tahu persis niat saya di sini murni ingin memahami pikiran kedua orang itu secara logis, bukan bicara tentang kebenaran agama apapun.

    IV. KESIMPULAN SEDERHANA

    Sebagai kesimpulan, saya akan mengulang poin-poin penting tulisan ini secara singkat untuk semakin mempermudah kita memahami dan hidup antar manusia sebagai satu bangsa besar Indonesia yang ber-bhinneka, sebagai berikut :
    • Berbicara antar sesama manusia yang berbeda iman kepercayaan akan sulit bila menggunakan dasar iman. Pembicaraan hanya memungkinkan bila keduanya sepakat menggunakan ‘apa yang sama’ yang dimiliki oleh semua manusia, yaitu logikanya. Dialog antar agama memungkinkan bila kedua pihak menggunakan logika, bukan pendasaran agama.
    • Bila kita mengukur orang lain dengan standar pribadi diri kita (entah itu agama, tradisi sosial, atau pemikiran pribadi apapun) dan mengatakan itu lantang di depan orang tersebut, hampir pasti akan muncul ketegangan berelasi. Tidak ada orang yang senang di-cap oleh orang lain. (Bahasa kerennya “dijustifikasi”).
    • Iman adalah bentuk kepercayaan kepada Tuhan (atau bahasa Logikanya: Entitas Tertinggi, Yang Mahakuasa, Pencipta yang Tidak Diciptakan, dan sebagainya) yang mengarah ke dalam, bukan mengarah keluar untuk mengukur identitas orang lain.
    • Apapun agama yang diimani, manusia adalah makhluk bebas yang dibatasi kebebasannya oleh manusia yang lain. Hukum negara Indonesia mengakomodasi kebebasan tiap warganegara sebagai manusia, termasuk untuk memeluk agama. Di sana fungsi hukum, yakni untuk memastikan kebebasan beragama yang satu tidak melanggar yang lain.
    Maafkan saya bila kali ini tulisannya sangat panjang dan memakan waktu pembaca seword.com. Semoga kita semua bisa terus berpikir terbuka tentang Indonesia sebagai Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan apapun selalu menjadi tantangan bangsa ini. Fakta sejarah menunjukkan negara ini pernah bertikai karena perbedaan suku dan karena perbedaan agama, tapi fakta sejarah yang sama juga mengatakan bahwa negara ini bisa merdeka dari penjajah selama lebih dari 70 tahun karena yang berbeda-beda itu (akhirnya sadar bahwa bangsa Indonesia memiliki keinginan yang) satu jua.

    Salam Bhinneka Tunggal Ika dari Kepala Rusa. Bagaimana menurut Anda para pembaca yang budiman? (cieee..jadul amat bahasanya).

    Penulis : Alderre Sumber : Seword.com

    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: (Analisa Filosofis Sederhana) Ahok Murka Disebut Asroi “Kafir” di Sidang Ke-7 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top