728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 31 Januari 2017

    Ahok Kampanye ke Pulau Pramuka, Si Anu Meradang

    Mendengar berita dari WA bahwa Ahok akan kampanye ke Pulau Pramuka, saya heran luar biasa. Selain ada ketakutan tersendiri, saya heran sampai berkata-kata sendiri, “Udah gila kali Ahok ini!” Bagaimana saya tidak berkata seperti itu, Pulau Pramuka adalah awal kasus penistaan agama. Pidato Ahok di pulau itulah sumber dari segala sumber aksi-aksi berjilid akhir tahun 2016 lalu. Kisah di pulau itu pula yang membawa Ahok harus duduk di kursi pesakitan. Ehhh…. Malah dia mau kampanye ke sana.

    Ternyata benar, Ahok kampanye ke Kepulauan Seribu, termasuk Pulau Pramuka. Tetapi semua ketakutan dan keheranan itu berubah menjadi haru biru ketika mengetahui bahwa Ahok disambut dengan hangat dan dikalungkan bunga laiknya tamu agung kerajaan. Tidak hanya itu kedatangan Ahok disambut paduan rebana dan tamborin disertai teriakan “Hedop Pak Ahok!” tanpa henti. Wow…

    dan

    Tanpa terasa keharuan itu memaksa mata ini berlinang. Seorang, yang dianggap menista agama warga setempat, disambut dengan sorak-sorai penuh kegembiraan oleh warga itu sendiri. Keharuan melihat ini tidak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya air mata yang mengalir begitu saja. Ah… mungkin saya yang terlalu cengeng yah… Ahh…. Biarlah video itu yang menceritakan semua..

    Sudah yah… kita lanjut ke inti artikel ini….

    Si Anu meradang

    Apa pun komentar Anda terhadap blusukan Ahok ke Pulau Pramuka, bagaimana pun perasaan Anda, setuju, senang, heran, bangga, marah, sedih, kecewa, dll. tetapi Ahok sudah terlanjur ke Pulau Pramuka. Dia sudah mendatangi tempat di mana ia didakwa menista agama. Dia tidak ditolak, malahan disambut dengan meriah.

    Jadi begini. Melihat sambutan warga Kepulauan Seribu, yang mendengar pidato Ahok pada 29 September 2016, tidak merasa tersinggung atas perkataan Ahok. Masuk akalkah menyambut penuh kehangatan orang yang membuat kita tersinggung? Kemudian 9 hari kemudian, melalui video yang diunggah BY dan Pemprov DKI, ada orang Islam yang tersinggung dan menganggap pidato Ahok itu menista agama Islam. Coba deh pikir baik-baik. Orang yang melihat dan mendengar pidato Ahok tidak tersinggung, tetapi yang menonton video tersinggung. Kan aneh bin ngawur? Mungkin warga kurang memperhatikan, kurang mengerti soal agama sendiri, kurang beriman, dan kurang lain-lain, gitu? Kalau ada yang berpikir seperti itu, berarti dia merasa melampaui Allah sendiri, alias gila dan ngaco (kata Ahok)!

    Maka, Blusukan Ahok ke Pulau Pramuka dengan sambutan meriah langsung menampar muka MUI, GNPF-MUI, FPI, dan lain-lain, termasuk seluruh umat Islam yang melakukan aksi-aksi yang dikenal dengan aksi bela Islam I, II, dan III. Mereka menuduh Ahok sebagai penista Al Quran dan ulama tanpa meminta klarifikasi, tabbayun, sementara warga Kepulauan Seribu tidak melihat ada penistaan agama. Mereka memaksa pemerintah untuk mengadili Ahok tanpa pernah bertanya kepada warga Kepulauan Seribu. Kejam.

    Peristiwa ini menelanjangi oknum MUI, GNPF-MUI, FPI, dll. dari kemunafikan mereka yang mengatasnamakan kesucian Al Quran dan ulama untuk memuaskan hasrat kebencian mereka, melancarkan rencana busuk mereka, memenuhi kepentingan politik mereka dan melegakan dahaga kehausan nafsu mereka. Sebab menuduh tanpa klarifikasi (tabbayun) itu, biadab.

    Kita menjadi sadar bahwa aksi-aksi itu tidak lagi murni sebagai aksi membela kesucian Al Quran dan ulama, melainkan aksi membela diri mereka sendiri dan mungkin kepentingan politik sang desainer. Peristiwa ini mengafirmasi bahwa aksi-aksi itu adalah setingan dan bayaran. Ya Tuhan YME, mengapa kau lahir orang-orang biadab seperti mereka itu di negeri kami tercinta ini!

    Jadi siapa pun mereka, bilang saja si anu, saat ini sudah meradang. Saya yakin, mereka sedang mengatur ulang formasi dan strategi. Mereka sebenarnya sudah kalah sejak Ahok divonis terdakwa, menjalani sidang beberapa kali dan mendengarkan saksi-saksi bodong, tak berbobot, mungkin juga buodoh dan guoblok (upsss). Jika ditambah blusukan Ahok ini, baik desainer, sutradara dan aktor-aktornya jadi kalah telak dengan memalukan.

    Kenapa FPI tidak menghadang?

    Bagaimana mau menghadang kampanye Ahok sementara sang imam besar sedang asyik menjalani pemeriksaan di kantor polisi, yang hari ini sudah divonis tersangka, belum lagi kasus-kasus lain yang sedang menunggu diproses. Apalagi sang imam besar sedang dilanda ‘cobaan’ soal isu perselingkuhan dan sex chat auhhh aaaauh aaaahh… FPI tanpa sang imam besarnya bagai anu tanpa mampu crot (eh sorry, terbawa suasana).

    Mereka sudah lesu, loyo, lunglai tak berdaya. Mulut mereka tidak lagi mampu mengucapkan kata, apalagi teriak-teriak dan takebeer. Kerongkongan mereka sudah radang karena kasus sang imam besar, #BubarkanFPI, dan lain-lain. Oh iya… ini yang terpenting. Dana mereka sudah tidak ada lagi untuk aksi, sang desainer sudah memutus aliran dana. Kasihan yah….

    Bagi Ahok, kesempatan ini adalah kesempatan emas. Selain dia tahu bahwa ternyata dia diterima wara Kepulauan Seribu sebagai bukan penista agama, juga menambah jumlah suara di Kepulauan Seribu. Ahok juga secara tidak langsung akan menambah suara pemilih dari luar Kepulauan Seribu yang sekarang sadar bahwa Ahok tidak menyinggung warga di sana. Mereka akan kembali dan berbalik ke Ahok.

    Terima kasih kepada warga Kepulauan Seribu

    Saya bukan warga Jakarta, juga bukan siapanya Ahok. Saya mah apa atuh, hanya sehembusan angin sepoi semata, yang tidak ingin ternoda oleh kebobrokan akhlak begundal-begundal perusak bangsa ini. Untuk itu saya, dan mungkin masih banyak anak bangsa ini, mengucapkan terima kasih banyak kepada warga Kepulauan Seribu. Anda telah berhasil menyadarkan bangsa ini bahwa agama sekalipun tidak akan sanggup menodai kebenaran dan keadilan. Anda telah menunjukkan iman Islam yang sesungguhnya, rahmatan lil alamin. Islam sejati yang mengatakan dan menyatakan yang benar itu benar, salah itu salah.

    Anda adalah Islam yang saya kenal, bukan karena membela Ahok, melainkan karena Anda menjadi diri Anda sendiri. Islammu tidak mengumandangkan takbir di bibir, melainkan di hati. Anda tidak meneriakkan amar ma’ruf nahi munkar di mulut, tetapi tindakanmulah yang menyatakannya. Anda adalah Islam yang memenuhi kemanusian, bukan hanya di mulut. Sekali lagi, terima kasih sudah menunjukkan kepadaku Islam yang sungguh rahmatan lil alamin, pembawa rahmat ke seluruh alam ini.

    Terakhir. Tak terhingga cara Allah menegakkan kemuliaan-Nya. Benarlah bahwa semua akan indah pada waktunya bagi siapa yang berjalan di jalan-Nya, yang melakukan kehendak-Nya, dan yang berkenan kepada-Nya. Ingat, Allah tidak diam.

    Mari sebentar bernyanyi bersama Allah dari sepenggal syair Fatin Shitqia Lubis (dengan gubahan syair), Inilah akhirnya, harus Kuakhiri, sebelum nafsumu semakin buas, maafkan diri-Ku memilih setia, walaupun Ku tahu takebeermu lebih keras darinya.

    Salam…..

    Penulis : Mora Sifudan  Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Kampanye ke Pulau Pramuka, Si Anu Meradang Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top