728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 26 Desember 2016

    Muhammad Maftuh Basyuni Sosok Yang Patut di Teladani

    Seumur hidupku, hanya Muhammad Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid I (periode 2004-2009) yang sangat terbukanya kepada awak media.

    Semasa hidupnya, Maftuh tidak merasa takut kehidupan pribadinya dibuka ke publik, tetapi jangan mencobanya untuk memfitnah. Ia akan kejar orang bersangkutan sampai "ujung langit".

    Demikian sosok gambaran almarhum Maftuh yang pada Sabtu (24/12/2016) lalu bertepatan dengan peringatan 1.000 hari wafatnya. Beliau meninggal pada 20 September lalu di RSPAD Jakarta. Mengenang 1.000 hari kepergian beliau, banyak contoh dan keteladanannya yang patut diikuti oleh siapa pun: pejabat atau pun warga biasa yang hidup sederhana.

    Sesuai dengan pengakuan MB - demikian banyak orang menyebut dirinya - sangat terbuka terhadap siapa saja. Dalam berbagai urusan dinas dan pribadi tidak ada yang disembunyikan. Tentu keterbukaan itu tidak dijadikan informasi yang "telanjang", tetapi tersaring mana yang pantas disampaikan kepada publik dan disimpang hanya cukup diketahui kalangan tertentu.

    Setelah lengser dari Menteri Agama, MB banyak aktif dan mengurusi umat di Masjid Agung At-Tin, Jakarta Timur. Para santrinya di pondok pesantren miliknya di Desa Cigelis, Pandeglang, Banten, merasa sedih atas kepergian beliau.

    MB sempat mendapat kepercayaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Ketua Satuan Tugas Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (Satgas TKI). SBY pun menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) pembentukan Satgas TKI pada Juli 2011.

    Mantan Duta Besar (Dubes) RI untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman tersebut bekerja dengan didampingi wakil, yaitu mantan Kapolri (Purn) Jenderal Bambang Hendarso Danuri, mantan Jaksa Agung Hendarman Supandji dan mantan Utusan Khusus Presiden di Timur Tengah, Alwi Sihab. Ada pun anggota timnya berjumlah 19 orang.

    MB selalu dalam bekerja melakukan pengecekan ulang di lapangan. Bahkan wartawan pun didatangi untuk mencari informasi tambahan sebagai bahan rujukan untuk bahan pengambil kebijakan.

    Ketika masih menjabat sebagai menag, ia secara rutin mengajak penulis berdiskusi di ruang kerjanya tentang isu-isu menarik. Ia minta pandangan wartawan, misalnya seputar Ahmadiyah, aliran sempalan dalam agama, pornografi dan kehidupan antarumat beragama. Termasuk persoalan penyelenggaraan ibadah haji yang dipandangnya ingin disahkan dari Kementerian Agama (Kemenag).

    "Jika ada pendapat dari tukang penyapu jalanan, dan pendapatnya bagus, saya akan ambil. Tak perlu memandang siapa orangnya," ungkap MB ketika membuka diskusi dengan penulis.

    Karena diskusinya panjang, ajudan tak berani memberhentikan disuksi yang tengah hangat-hangatnya. Ajudan tak kehilangan akal. Sambil menyerahkan map berisi jadwal kegiatan, ia mengedipkan sebelah mata ke arahku. Dan, cepat-cepat kunyatakan disuksi harus dilanjutkan lain waktu.

    Sebelum meninggalkan ruang, MB minta tolong dibukakan brankas. Terasa tak enak di hati, jangan-jangan MB mau memberikan "doku".

    Karena belum pernah melihat dan membuka brankas uang, apa lagi milik seorang menteri, aku makin grogi. Sedikit gemetar. Lantas, ia pun mengambil secerik kertas. Minta dibacakan angka-angka yang ternyata adalah kode kunci brankas. Sambil memutar sesuai petunjuk, tak lama pintu brankas terbuka. Kulihat, tak ada uang. Hanya sebuah map di dalamnya.

    "Saya tak pernah nyimpan uang di brankas. Kan urusan jalan dan jajan sudah ada yang ngatur," ujar MB sambil mengucap terima kasih dan mempersilahkanku meninggalkannya.

    Ahok ingin Wapres? Di penghujung akhir hayatnya, MB sempat melontarkan kelakar ketika saya bersama isteri membesuknya di RSPAD. Kusaksikan ia bernafas terengah-engah seperti seorang habis berlari kencang. Mengenakan selang, berpakaian seperti kebanyakan orang lainnya mengenakan baju khas rumah sakit setempat ketika menjalani perawatan, MB masih banyak mencurahkan pikirannya kepada isu-isu menarik di negeri ini.

    Ibu Wiwik Maftuh Basyuni yang setia menemani MB, - sejak dirawat di RS Darmais, Prince Court Hospital Kuala Lumpur, -mempersilakanku duduk disamping MP. Sempat kujelaskan tentang penerbitan buku biografinya yang tengah dirampungkan.

    Tak kusangka, MB dengan suara perlahan bertanya kepadaku. "Ahok mau jadi wakil presiden?" Aku tak bisa menjawabnya. Namun tak bisa menahan tawa karena pertanyaan itu muncul terasa aneh. Tetapi MB nampak serius memperhatikan diriku. Dengan sorot mata tajamnya, MB melototiku seolah minta jawaban tegas dariku. Tapi, agar MB merasa terhibur, kualihkan pembicaraan ke soal lainnya. Tapi ia tahu itu. Karenanya, MB kembali menanyakan tentang isu itu lagi.

    Kujawab, jika Allah menghendaki tentu jadi. MB pun terlihat tak lagi ngotot untuk mendapat jawaban prihal Ahok, sebutan akrab gubernur DKI non-aktif Basuki Tjahaja Purnama.

    MB dapat disebut orang paling sensitif. Isu sekecil apa pun mendapat perhatiannya. Ia pun tak segan-segan memuji beberapa pejabat yang membantu "all out" ketika masih menjabat sebagai Menag. Seperti mantan Sekjen Bahrul Hayat, Nasaruddin Umar - kini Imam Masjid Istiqlal - , Atho Mudzhar, MA (Litbang Kemenag), IBG Yudha Triguna (mantan Dirjen Bimas Hindu), si 'kocak' Budi Setiawan (mantan Dirjen Bimas Buddha).

    Mantan Dirjen Bimas Kristen, Dirjen Bimas Katolik dan Dirjen Pendis juga sering disebut-sebut tetapi ia lupa namanya. Mereka membantu dengan sungguh-sunggu. Bekerja bersih. "Slamet Riyanto, mantan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, itu bekerja baik. Ia bekerja selamat karena terus berada di belakang saya," puji MB.

    Untuk memulihkan citra Kemenag yang tengah terpuruk akibat kasus korupsi, MB pun mengaku bersyukur punya staf juru bicara Kemenag yang bagus. "Saya kira, Mashuri - Kepala Pusat Informasi dan Humas - yang terbaik hingga saat ini dibanding lainnya," puji MB.

    MB memang tergolong berusia lanjut ketika menjadi menteri dibanding para menteri-menteri lainnya pada KIB jilid I. Kesehatannya kadang terganggu, tetapi semangatnya dalam bekerja sangat luar biasa.

    "Kita bisa dikalahkan orang yang bekerja seperti anak muda," ungkap dr. Ramon Andreas, dokter pribadinya yang selalu setia mendampinginya.

    MB tak akan berhenti bekerja sebelum pekerjaannya tuntas. Ketika menjabat sebagai Satgas TKI, ia melobi para pejabat, petugas penjara setempat sampai hasilnya dilaporkan kepada SBY. "Kerjanya sangat teliti, hasilnya pun pasti," kata Ramon.

    Kerja kerasnya pun terlihat ketika melakukan kunjungan kerja ke Surabaya. MB saat itu baru saja menjalani operasi mata. Ia seharusnya beristirahat, tak boleh melakukan aktivitas apa pun. Tetapi karena sudah dijadwalkan ia harus memenuhi undangan Rektor IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel) Prof Nur Syam (kini Sekjen Kemenag).

    Karena tidak ada dokter yang mendampingi dalam kunjungan kerja tersebut, penulis diminta untuk mendampinginya. Maka jadilah wartawan merangkap ajudan, karena MB tak senang berkunjung membawa anggota rombongan dalam jumlah besar.

    Tiba-tiba, di mushala yang ada di ruang VIP Bandara Juanda, MB minta penulis duduk bersila di hadapannya. Ia pun membaringkan kepalanya ke pangkuanku dan minta ditetesi obat mata perlahan-lahan.

    Kejadian ini mengingatkan penulis ketika MB sakit dan dirawat di RS Pertamina. Di bulan puasa, tengah malam, ketika kumembesuknya, sempat kakinya kupijiti perlahan-lahan. Ia terlihat senang.

    Wajah MB hingga kini sulit lepas dari pandanganku. MB kini telah pulang ke sisi Allah. Pada peringatan 1.000 hari wafatnya, di Gedung Granadi, Jakarta Sabtu (24/12/2016), kusaksikan banyak undangan datang untuk membaca Surah Yasin, berzikir, berdoa. Kupandangi foto sosok Maftuh yang tengah duduk sambil melempar senyum.

    Jasa MB amat besar bagiku, negara dan bangsa. Hidup toleransi antarsesama telah ditunjukkan. "Saya berharap, yang baik dari beliau dipakai. Yang buruk dijauhi," pinta Muzamil Basyuni, adik kandung MB yang kini mengurusi Masjid Istiqlal Jakarta.
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Muhammad Maftuh Basyuni Sosok Yang Patut di Teladani Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top