728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 18 Desember 2016

    Belajar Toleransi di Perpustakaan Gus Dur

    Ahok dan Mensos Khofifah Resmikan Patung Gus Dur Semasa Kecil
    Sudah sebulan patung presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid setinggi 1 meter 20 sentimeter dengan posisi duduk di kursi mewah berada di Perpustakaan Gus Dur, kompleks Taman Budaya Indonesia Tionghoa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

    Belum ada penjelasan apakah patung tersebut terbuat dari tembaga atau perunggu. Namun, tampilan fisiknya, Gus Dur--sapaan akrab K.H. Abdurrahman Wahid--terlihat necis mengenakan songkok hitam, baju safari lengan panjang, celana panjang, dan bersepatu kulit pantofel mengenakan kacamata sambil mengangkat tangan tertawa seolah mengucapkan salam.

    Ya, salam selamat datang bagi para pengunjung perpustakaan tersebut. Patung Gus Dur ditempatkan sedikit ke tembok belakang dengan menghadap pintu masuk. Jadi, begitu pengunjung datang, akan langsung menatap Gus Dur. Suasana bersahabat pun terlihat dengan tampilan foto Gus Dur semasa muda dengan anggota keluarganya.

    Memperhatikan kursi yang diduduki Gus Dur, terasa unik. Pegangan kursi terukir belalai gajah, senderan kursi hampir menyerupai ukiran yang dimiliki para raja dari Thailand. Terlihat kekar untuk menopang tubuh Gus Dur yang berat dan besar.

    Perpustaan Gus Dur belum dibuka secara resmi. Namun, sudah dapat disaksikan publik. "Saya kira, perpustakaan ini harus dirapikan. Masih membutuhkan dana sekitar Rp400 juta hingga Rp500 juta lagi," kata Brigjen TNI (Purnawirawan) Teddy Jusuf (72) selaku pendiri sekaligus Ketua Yayasan Taman Budaya Tionghoa, kawasan TMII Jakarta Timur.

    Semangat Toleransi Apa alasan Perpustakaan Gus Dur ditempatkan kompleks Taman Budaya Indonesia Tionghoa, Teddy belum mau menjelaskan. Namun, dari kepentingan toleransi sangat tepat sekali. Kehadiran taman budaya itu sendiri dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat kerukunan antarumat, toleransi antaretnis, dan penyatuan bangsa Indonesia.

    Taman Budaya Tionghoa ini hadir seperti kampung pecinan. Bangunan di wilayah itu terasa hampir menyerupai aslinya, tampak indah didukung dengan penataan taman yang apik. Ada patung burung garuda. Tidak jauh dari itu ada patung Guru Khonghucu, Cheng Hu, dan para pejuang etnis Cina di Indonesia.

    Kehadiran patung Burung Garuda menyadarkan pengunjung bahwa lingkungan pecinan tersebut adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Taman Budaya Tionghoa Indonesia berdiri di atas lahan 4,5 hektare--yang merupakan sumbangan keluarga besar H.M. Soeharto di kawasan TMII.

    Lahan tersebut kemudian dibangun sejumlah museum, mulai museum peranakan Hakka, Cengho, hingga perjuangan warga etnis Tionghoa dalam memerdekakan negeri ini dari tangan penjajah.

    Patung burung garuda itu dibangun atas sumbangan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang berdiri gagah menghadap Plaza Indonesia.

    Melangkah masuk ke dalam, orang akan menyaksikan patung 12 sio di lingkungan pemondokan berarsitektur Tiongkok. Tidak jauh dari lokasi itu, berdiri patung kera sakti--yang ceritanya melegenda di kalangan etnis Tionghoa. Masih di kawasan itu pula, ada patung putri cantik mirip patung Dewi Kwan Im yang namanya melegenda itu. Di kawasan itu, kini tengah direncanakan bangunan Museum perjuangan laskar etnis Cina dalam membela NKRI.

    Makin jauh kaki melangkah, rasa ingin tahu akan isi sepenuhnya di kawasan itu makin menggebu. Tidak jauh dari lokasi patung kera sakti, dijumpai Museum Hakka dan Chengho. Bangunannya memang terlihat sederhana, berarsitektur Cina. Namun, setelah masuk, bisa membuat banyak orang terperanjat. Pasalnya, di dalam museum itu relatif banyak terpajang para pejuang etnis Cina.

    Dalam sejarah tercatat nama, antara lain, Oey Eng Kiat/Raden Ngabehi Widyaningrat (Lasem, Jawa Tengah), Gian Liam Nio (1901 s.d. 1953, Jawa Timur), Djiauw Pok Kie (1910 s.d. 1973), Sho Bun Seng (1911 s.d. 2000, Padang, Sumatera Barat), Liem Ching Gie/Abdul Malik (1911 s.d. 1970, Sulawesi Selatan), dan Oei Pei Hin (1912 s.d. 1996, Jawa Barat).

    Belum lagi benda keramik dan peninggalan lainnya. Bahkan, batik ciri khas dari Pekalongan banyak diwarnai etnis Cina. Motif batik Cina memang didominasi warga naga dan bunga. Akan tetapi, jika dipadukan dengan etnik Jawa, terlihat makin indah. Semua itu ada di Museum Chengho.

    Dalam laman NU Online, alumni Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya, yang menjadi peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Anggi Afriansyah menulis bahwa Gus Dur memiliki kemampuan membaca buku luar biasa.

    Gus Dur punya kemampuan membaca buku jauh lebih banyak daripada sebayanya. Rumahnya penuh dengan buku. Apalagi, Gus Dur berasal dari keluarga pencinta ilmu dan ahli ilmu. Sebagai cucu dari K.H. Hasyim Asyari dan anak dari Kiai Wahid Hasyim tak mengherankan jika Gus Dur sudah sangat senang membaca pada usianya yang sangat belia.

    Ketika kuliah di Universitas Al Azhar, salah satu tempat kegemarannya adalah perpustakaan. Beliau terbiasa membaca di perpustakaan Universitas Amerika, Universitas Kairo, atau di perpustakaan Prancis.

    Gus Dur terbiasa membaca apa saja dan di mana saja, tanpa memilih tempat. Di rumah maupun di tempat menunggu bus beliau membaca. Tidak ada buku, potongan koran pun beliau baca.

    Bacaannya luas, tak sekadar kajian keagamaan. Beliau membaca semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, dan Pushkin. Gus Dur juga membaca karya Marx dan Lenin.

    Ia senang berdiskusi dengan mahasiswa dan kaum cendikiawan di kedai-kedai kopi Kota Kairo. Kedai-kedai kopi baginya merupakan sekolah untuk menyempurnakan pengetahuan bahasa Arab juga debat-debat intelektualnya. Ketika melanjutkan kuliahnya di Baghdad, kecintaannya terhadap buku makin terakomodasi. Apalagi, di Universitas Baghdad mahasiswa diharapkan untuk berpikir kritis dan banyak membaca.

    Semangat membaca Gus Dur memang luar biasa. Beliau membaca bahkan sampai larut malam. Sehingga sering kali beliau harus terkantuk-kantuk ketika kuliah. Di tengah padatnya aktivitas, Gus Dur masih mengatur jadwal membacanya. Setiap sore beliau sudah di perpustakaan universitas untuk membaca.

    Selain pembaca yang tangguh, Gus Dur juga merupakan penulis yang sangat produktif. Sejak mahasiswa beliau menulis esai untuk beragam majalah maupun surat kabar. Karya-karya tersebar luas dan dapat dinikmati hingga saat ini.

    Dalam Penataan Kelebihan membaca dari Gus Dur tersebut terlihat dari perpustakaan yang ada di taman budaya tersebut. Penulis beruntung dapat melihat sejumlah buku dan dokumen foto pribadi Gus Dur yang hingga kini masih dalam penataan. Perpustakaan Gus Dur ini ikut diwarnai dengan ornamen etnis Tinghoa, seperti para kaisar dari foto-foto negeri Cina yang berada di lantai dua.

    Yang menarik adalah kata-kata mutiara dari ucapan Gus Dur. Kata mutiara tersebut ditampilkan di dinding. Salah satunya yang menarik adalah ucapan Gus Dur: "Tidak penting apa pun agama atau sukumu... Kalau kamu bisa melakukan sesuatu. Yang baik untuk semua orang, orang tidap pernah tanya apa agamanya." "Mari kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali." "Inilah makna sebenarnya dari semboyan nasional: Bhinneka Tunggal Ika, yaitu PERSATUAN dan KEBERAGAMAN."

    Oleh Edy Supriatna Sjafei (Ant)
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Belajar Toleransi di Perpustakaan Gus Dur Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top